News

30 December 2019

E-Commerce, Mendorong Tumbuhnya UMKM

Jakarta – Suka tidak suka dengan mendorong e-comerce dapat berdampak kepada pertumbuhan tumbuhnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang berujung pada kesejahteraan masyakarat. Memang bahwa kontribusi UMKM terhadap ekonomi nasional masih belum terlalu besar atau sekitar 14,5 persen dari pertumbuhan ekonomi nasional. Sedangkan korporasi menyumbang 85,5 persen dari pertumbuhan ekonomi nasional. Tapi jika didorong dengan menggunakan e-comerce maka bisa tumbuh hingga dua kali lipat atau bahkan bisa lebih. “Harapan kami, 2024 jadi dua kali lipat dari sekarang," jelas Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduku. Atas dasar itulah, Teten mengakui, pihaknya gencar menggaet e-commerce. seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Shopee.

Menurut dia, UMKM perlu berdagang di platform digital supaya bisa memperluas pasar. “Jadi kita perlu mengembangkan akses pasar agar UMKM bukan hanya (menyasar pasar) dalam negeri tapi juga luar negeri," ucap Teten. Selain itu, menurut Teten pelaku UMKM perlu meningkatkan kemampuan teknologinya. Ia pun berencana membuat kantor bersama untuk mendorong ekspor UMKM. Perizinan, sertifikasi hingga pembiayaan ekspor dapat dilakukan melalui kantor tersebut. Kemudian yang tidak kalah penting yaitu menjamin Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 190 triliun pada tahun depan cukup untuk membantu UMKM mengembangkan bisnisnya.

Pembiayaan untuk UMKM itu juga terbagi di berbagai kementerian dan Lembaga (K/L). Di Indonesia, beberapa e-commerce juga sudah menyediakan layanan ekspor. Bukalapak misalnya, meluncurkan BukaGlobal pada pertengahan Mei tahun ini. Lewat layanan ini, pengguna di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Hong Kong, dan Taiwan bisa membeli produk Indonesia melalui Bukalapak. Shopee juga menargetkan bisa mengekspor 5 ribu produk UMKM Indonesia ke Malaysia dan Singapura pada akhir tahun ini. Untuk mewujudkan rencana tersebut, Shopee bakal memaksimalkan gudang (warehouse) di luar negeri. Kemudian yang tidak kalah penting yaitu pihaknya akan menjadikan Koperasi Telekomunikasi Selular (Kisel) sebagai prototype sebuah koperasi modern.

"Saya ingin Koperasi Kisel dijadikan prototype dan role model sebuah koperasi moderen, agar bisa menginspirasi koperasi-koperasi lain bisa tumbuh secara moderen di era ekonomi digital", ungkap Teten pada acara Rapat Anggota (RA) Kisel di Jakarta. Lebih lanjut, Teten menekankan, dirinya tidak salah bila menyebut bahwa Kisel merupakan koperasi moderen yang sudah memiliki nama besar. Pasalnya, Kisel sudah mampu mensejajarkan diri dalam daftar 100 koperasi besar di dunia, berada di peringkat 94. "Saya akan terus mendorong koperasi-koperasi tumbuh dan masuk ke sektor-sektor hulu, sektor riil, tidak hanya sebatas usaha simpan pinjam", tukas Menkop.

Dalam hal ini, Teten pun mengapreasi Koperasi Kisel yang tidak sekadar menjalankan bisnisnya untuk mensupport core business PT Telkomsel. Tetapi, sudah mulai merambah sektor lain di luar bisnis inti Telkomsel. "Kita akan terus mempermudah koperasi dan UMKM dalam berusaha sama dengan yang diterapkan untuk korporasi", tandas Teten. Disisi lain, Teten pun mengakui, masih ada pihak yang memandang kecil eksistensi koperasi di Indonesia. "Maka, kita perlu gelorakan rebranding koperasi dan modernisasi koperasi, dengan perkuatan manajemen hingga menghasilkan efisensi bisnis dengan menggunakan teknologi.

Dan Koperasi Kisel bisa menjadi contoh kongkrit sebuah koperasi moderen", ujar teten. Dengan contoh tersebut, Teten ingin menyasar generasi anak muda milenial agar berminat dan antusias untuk berkoperasi. "Itu bisa menjadi entry point untuk membangkitkan nama besar koperasi di Indonesia. Apalagi, Presiden Jokowi memiliki agenda besar untuk ekonomi kerakyatan, yang diimplementasikan melalui pengembangan koperasi dan UMKM", kata Teten. Revenue Rp7 Triliun Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Kisel Suryo Hadiyanto mengatakan, rapat anggota kali ini bertujuan untuk mengesahkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2020. Kisel menargetkan capaian revenue sebesar Rp7 triliun, atau meningkat 19% dibandingkan tahun 2019.

"Kenaikkan revenue eksponensial tersebut, optimis dicapai melalui konsistensi Kisel dalam modernisasi dengan mengimplementasikan digitalisasi, disamping tetap menjalankan kerangka kerja strategis lainnya, yaitu memelihara dan mengamankan bisnis eksisting, memperkuat bisnis utama, dan ekspansi bisnis", papar Suryo. Sebagai peringkat 94 koperasi terbaik dunia (versi World Cooperative Monitor tahun 2018), Kisel menyadari pentingnya implementasi digitalisasi di setiap lini. "Untuk itu, Kisel membangun tiga pilar bisnis yaitu platform, channel, dan aplikasi, guna meningkatkan performansi dan daya saing di era ekonomi digital," kata Suryo.

Sumber: http://www.neraca.co.id/article/126285/e-commerce-mendorong-tumbuhnya-umkm