Cara membuat kontrak logistik dengan vendor yang tepat dimulai jauh sebelum dokumen itu sendiri ditulis, yaitu dari riset vendor, pemetaan kebutuhan, hingga menyepakati struktur biaya yang jelas. Kesalahan paling umum biasanya bukan pada bahasa hukumnya, melainkan pada detail operasional yang terlewat karena terburu-buru menandatangani kontrak. Panduan ini membahas langkah praktis menyusun kontrak yang benar-benar melindungi bisnis Anda.
Sebelum menulis satu klausul pun, luangkan waktu untuk memetakan kebutuhan operasional secara spesifik. Tentukan volume pengiriman yang diperkirakan, jenis barang yang akan dikirim, serta rute atau tujuan utama, karena detail ini menentukan jenis layanan apa yang perlu dicantumkan dalam kontrak.
Langkah berikutnya adalah melakukan verifikasi terhadap vendor calon mitra, termasuk mengecek legalitas usaha, rekam jejak layanan, dan referensi dari klien lain jika memungkinkan. Menyusun kontrak dengan vendor yang belum terverifikasi kredibilitasnya berisiko membuat perjanjian tersebut sulit ditegakkan ketika masalah benar-benar terjadi.
Struktur biaya adalah bagian yang paling sering menimbulkan sengketa jika tidak dijelaskan secara rinci. Berikut komponen yang wajib tercantum secara eksplisit dalam kontrak.
Cantumkan apakah tarif dihitung berdasarkan berat, volume, jarak, atau kombinasi ketiganya, lengkap dengan contoh perhitungan agar tidak menimbulkan tafsir berbeda.
Sertakan daftar biaya tambahan seperti biaya penanganan khusus, biaya penyimpanan di gudang jika terjadi keterlambatan pengambilan, atau biaya darurat untuk pengiriman mendesak.
Tentukan jadwal pembayaran yang jelas, termasuk konsekuensi jika salah satu pihak terlambat membayar atau terlambat mengirim sesuai kesepakatan.
SLA yang baik harus berisi angka dan metrik yang bisa diverifikasi, bukan janji layanan yang bersifat umum. Cantumkan estimasi waktu pengiriman dalam rentang yang realistis, target tingkat keberhasilan pengantaran, serta batas waktu respons vendor terhadap pertanyaan atau keluhan.
Hindari SLA yang terlalu longgar sehingga tidak bisa dijadikan dasar evaluasi, tapi juga hindari target yang terlalu ketat sehingga vendor kesulitan memenuhinya secara konsisten. SLA yang realistis justru membangun kepercayaan jangka panjang antara kedua belah pihak, dibanding target ambisius yang berulang kali gagal dipenuhi.
Bagian ini sering diabaikan padahal krusial ketika terjadi masalah. Pastikan kontrak menyebutkan secara spesifik siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan barang selama proses pengiriman, termasuk apakah asuransi kargo sudah termasuk dalam layanan atau perlu dibeli terpisah.
Sertakan juga kewajiban pengirim untuk memberikan informasi barang yang akurat, karena banyak sengketa muncul akibat data barang yang tidak sesuai kondisi sebenarnya saat pengambilan. Di sisi lain, tentukan hak pengirim untuk mendapatkan update status pengiriman secara berkala, terutama untuk layanan pengiriman kargo dengan waktu tempuh yang lebih panjang.
Beberapa kesalahan berikut sering ditemukan pada kontrak logistik yang disusun terburu-buru.
Template kontrak yang diambil begitu saja dari internet sering tidak mengakomodasi kebutuhan spesifik bisnis, seperti jenis barang khusus atau rute pengiriman tertentu.
Klausul tanggung jawab yang terlalu umum membuat sulit menentukan siapa yang harus mengganti kerugian ketika barang rusak atau hilang.
Banyak kontrak tidak mengatur mekanisme yang jelas untuk mengakhiri kerja sama lebih awal, sehingga salah satu pihak bisa terjebak dalam perjanjian yang tidak lagi menguntungkan.
Sebelum menandatangani kontrak dengan vendor logistik, pastikan poin-poin berikut sudah tercantum dengan jelas:
Jika Anda membutuhkan penanganan tambahan seperti kitting atau repacking sebagai bagian dari kerja sama, pastikan juga layanan tambahan tersebut dicantumkan secara spesifik dalam ruang lingkup kontrak, bukan diasumsikan otomatis termasuk.
PT. Uniair Indotama Cargo, penyedia jasa freight forwarding yang beroperasi sejak 1985, terbiasa membantu klien menyusun kerja sama logistik dengan struktur kontrak yang jelas sejak awal, sehingga kedua belah pihak punya acuan yang sama dalam menjalankan operasional sehari-hari.
Menyusun kontrak logistik dengan vendor yang solid bukan soal menulis dokumen setebal mungkin, melainkan memastikan setiap detail operasional penting, dari struktur biaya hingga SLA, tercantum secara spesifik dan terukur. Gunakan checklist di atas sebagai langkah terakhir sebelum menandatangani kontrak, agar tidak ada celah yang bisa menimbulkan sengketa di kemudian hari.
Contact the Uniair Cargo team
today for a FREE consultation and export cost estimate!
Also, follow us on Instagram at @uniaircargo
for logistics tips, up-to-date information, and export inspiration!