Mau Ekspor ke China? Mulai dari Sini


August 07, 2026


Ekspor ke China bisa menjadi peluang besar bagi bisnis Indonesia, tetapi prosesnya tidak cukup hanya menyiapkan barang dan mencari jasa pengiriman. Untuk menjalankan cargo ekspor ke China dengan aman, eksportir perlu memahami jenis barang, pilihan moda, dokumen, regulasi, hingga risiko operasional sejak awal.

China adalah pasar yang besar, tetapi juga memiliki standar kepabeanan, karantina, dan kepatuhan dokumen yang cukup detail. Karena itu, persiapan yang rapi akan membantu bisnis menghindari delay, biaya tambahan, atau kendala saat barang tiba di negara tujuan.

Jenis Barang yang Umum Diekspor ke China

Indonesia memiliki banyak produk yang berpotensi masuk ke pasar China, terutama karena kebutuhan industri dan konsumsi di negara tersebut sangat beragam. Beberapa kategori barang yang umum diekspor dari Indonesia ke China antara lain:

  • Produk mineral dan hasil tambang, seperti batu bara, nikel, besi, baja, dan produk turunannya.
  • Komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit, karet, kopi, kakao, dan rempah.
  • Produk perikanan dan makanan olahan, dengan catatan harus memenuhi standar keamanan pangan dan persyaratan registrasi.
  • Produk kayu dan furniture, terutama yang memiliki legalitas bahan baku dan dokumen pendukung.
  • Produk manufaktur, seperti komponen industri, tekstil tertentu, alas kaki, dan barang kebutuhan produksi.

Namun, tidak semua produk bisa dikirim dengan prosedur yang sama. Barang makanan, hasil pertanian, kayu, bahan kimia, baterai, hingga barang bernilai tinggi biasanya membutuhkan pengecekan dokumen yang lebih ketat. Di sinilah eksportir perlu memahami klasifikasi HS Code, ketentuan larangan dan pembatasan, serta persyaratan dari pihak China sebelum shipment berjalan.

Pilihan Moda untuk Cargo Ekspor ke China

Dalam pengiriman cargo ekspor ke China, pemilihan moda transportasi sangat memengaruhi biaya, lead time, dan keamanan barang. Secara umum, ada dua pilihan utama yang sering digunakan: sea freight dan air freight.

Sea Freight

Sea freight cocok untuk pengiriman dalam jumlah besar, barang berat, atau cargo yang tidak terlalu mendesak. Pilihannya bisa berupa:

  • FCL (Full Container Load): satu kontainer digunakan untuk satu pengirim. Cocok untuk volume besar dan barang yang membutuhkan kontrol lebih baik.
  • LCL (Less than Container Load): barang digabung dengan cargo lain dalam satu kontainer. Cocok untuk eksportir dengan volume lebih kecil.

Keunggulan sea freight adalah biaya per unit biasanya lebih efisien untuk volume besar. Namun, lead time lebih panjang dan perlu perencanaan jadwal kapal, cut-off dokumen, serta proses pelabuhan.

Air Freight

Air freight lebih cocok untuk barang bernilai tinggi, urgent, sample product, sparepart penting, atau produk yang membutuhkan pengiriman cepat. Biayanya lebih tinggi dibandingkan laut, tetapi waktu pengiriman jauh lebih singkat.

Untuk eksportir pemula, keputusan moda tidak sebaiknya hanya berdasarkan harga. Pertimbangkan juga nilai barang, karakter produk, batas waktu buyer, risiko kerusakan, dan kesiapan dokumen.

Kenapa China Menjadi Tujuan Ekspor Strategis

China menjadi salah satu tujuan ekspor strategis karena memiliki pasar industri yang besar, rantai pasok yang luas, dan kebutuhan bahan baku yang konsisten. Banyak produk Indonesia dibutuhkan untuk mendukung sektor manufaktur, energi, konstruksi, makanan, hingga konsumsi rumah tangga.

Selain ukuran pasarnya, hubungan perdagangan Indonesia dan China juga didukung oleh skema kerja sama seperti ASEAN-China Free Trade Area atau ACFTA. Untuk produk tertentu yang memenuhi ketentuan asal barang, eksportir dapat menggunakan Certificate of Origin Form E agar buyer di China bisa memanfaatkan tarif preferensi.

Bagi bisnis, ini berarti peluang ekspor tidak hanya terbuka untuk perusahaan besar. UMKM, brand lokal, produsen makanan, supplier furniture, hingga pelaku usaha komoditas juga bisa mulai masuk ke pasar China selama produk dan dokumennya memenuhi ketentuan.

Cara Kerja Pengiriman Cargo dari Indonesia ke China

Secara sederhana, proses pengiriman cargo dari Indonesia ke China dimulai dari pengecekan barang hingga barang diterima oleh consignee di negara tujuan. Alurnya biasanya seperti berikut:

1. Identifikasi produk dan HS Code

Eksportir perlu memastikan klasifikasi barang sudah sesuai. HS Code akan memengaruhi dokumen, tarif, izin, dan ketentuan di negara tujuan.

2. Cek regulasi ekspor dan ketentuan China

Produk tertentu bisa membutuhkan sertifikat tambahan, dokumen karantina, sertifikat kesehatan, legalitas kayu, MSDS, atau registrasi khusus.

3. Siapkan dokumen ekspor

Dokumen dasar biasanya mencakup commercial invoice, packing list, sales contract atau purchase order, shipping instruction, dan dokumen pendukung sesuai jenis barang.

4. Booking moda pengiriman

Eksportir atau forwarder akan memilih jalur pengiriman, jadwal kapal atau penerbangan, serta menentukan apakah cargo dikirim FCL, LCL, atau air freight.

5. Proses kepabeanan ekspor di Indonesia

Pemberitahuan Ekspor Barang atau PEB diajukan sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban kepabeanan.

6. Pengiriman internasional

Setelah proses ekspor selesai, barang diberangkatkan menuju pelabuhan atau bandara tujuan di China.

7. Customs clearance di China

Buyer atau import agent di China akan mengurus proses impor berdasarkan dokumen yang disiapkan eksportir.

8. Delivery ke alamat tujuan

Setelah clearance selesai, barang dikirim ke gudang, pabrik, atau lokasi penerima.

Alur ini terlihat sederhana, tetapi setiap tahap bisa menimbulkan masalah jika data invoice, packing list, HS Code, jumlah barang, atau dokumen pendukung tidak konsisten.

Regulasi dan Ketentuan Ekspor ke China

Regulasi ekspor ke China perlu dilihat dari dua sisi: aturan Indonesia sebagai negara asal dan aturan China sebagai negara tujuan.

Dari sisi Indonesia, eksportir perlu memastikan barang memenuhi ketentuan kepabeanan, perizinan ekspor, dan dokumen pendukung sesuai kategori produk. Beberapa barang juga dapat terkena bea keluar, pemeriksaan fisik, atau ketentuan teknis dari instansi terkait.

Dari sisi China, persyaratan bisa berbeda tergantung jenis produk. Contohnya:

  • Produk makanan dan minuman dapat memerlukan registrasi atau pemenuhan standar keamanan pangan.
  • Produk pertanian, perikanan, dan hewan sering membutuhkan dokumen karantina atau health certificate.
  • Produk kayu dan furniture bisa memerlukan dokumen legalitas bahan baku.
  • Bahan kimia atau barang berisiko membutuhkan dokumen keselamatan seperti MSDS.
  • Barang bermerek atau produk retail perlu memperhatikan label, izin edar, dan perlindungan merek.

Untuk pengiriman yang ingin memanfaatkan skema tarif preferensi, eksportir juga perlu mengecek apakah produk memenuhi Rules of Origin dan dapat diterbitkan SKA Form E.

Risiko dalam Pengiriman ke China dan Cara Menghindarinya

Pengiriman ekspor tidak selalu gagal karena masalah besar. Sering kali hambatannya justru berasal dari hal kecil yang tidak dicek sejak awal.

1. Salah HS Code

Kesalahan HS Code dapat menyebabkan perbedaan tarif, dokumen tidak sesuai, atau pemeriksaan tambahan. Cara menghindarinya adalah melakukan klasifikasi barang berdasarkan spesifikasi teknis, material, fungsi produk, dan referensi regulasi.

2. Dokumen Tidak Konsisten

Perbedaan data antara invoice, packing list, BL/AWB, dan dokumen izin bisa menimbulkan pertanyaan saat clearance. Pastikan nama barang, jumlah, berat, nilai, consignee, dan negara asal ditulis konsisten.

3. Tidak Memenuhi Ketentuan Produk Khusus

Produk makanan, kosmetik, bahan kimia, baterai, atau barang berbasis kayu tidak bisa disamakan dengan general cargo. Sebelum booking pengiriman, cek apakah produk membutuhkan sertifikat tambahan.

4. Packing Tidak Sesuai Karakter Barang

Barang fragile, cairan, produk bernilai tinggi, atau cargo berat membutuhkan standar packing yang tepat. Packing yang kurang kuat dapat menyebabkan kerusakan saat handling, transit, atau proses bongkar muat.

5. Salah Memilih Moda Pengiriman

Memilih sea freight hanya karena murah bisa berisiko jika buyer membutuhkan barang cepat. Sebaliknya, memilih air freight untuk barang besar bisa membuat biaya tidak efisien. Sesuaikan moda dengan kebutuhan bisnis, bukan hanya harga awal.

6. Tidak Menghitung Total Landed Cost

Eksportir perlu memahami bahwa biaya ekspor bukan hanya freight. Ada biaya handling, dokumen, trucking, storage, asuransi, customs clearance, dan biaya tujuan yang perlu diperhitungkan agar margin tidak tergerus.

Kesimpulan

Memulai cargo ekspor ke China membutuhkan persiapan yang matang, mulai dari memahami produk, memilih moda pengiriman, menyiapkan dokumen, hingga memastikan regulasi di Indonesia dan China terpenuhi. Semakin lengkap pengecekan di awal, semakin kecil risiko barang tertahan, biaya membengkak, atau pengiriman terlambat.

Jika bisnis Anda sedang merencanakan ekspor ke China, bekerja dengan freight forwarder yang memahami proses dokumen, kepabeanan, dan rute internasional dapat membantu pengiriman berjalan lebih terkontrol. UNIAIR CARGO dapat menjadi partner logistik untuk membantu Anda menyiapkan pengiriman ekspor dengan pendekatan yang lebih rapi, aman, dan sesuai kebutuhan bisnis.

Contact the Uniair Cargo team today for a FREE consultation and export cost estimate!
Also, follow us on Instagram at @uniaircargo for logistics tips, up-to-date information, and export inspiration!

Why Are Goods Detained at Customs
Ekspor-Impor

MAY 04, 2024

Why Are Goods Detained at Customs and How to Preve...

apa itu freight forwarder
Ekspor-Impor

JUNE 09, 2026

Freight Forwarder: Cara Kerja & Manfaatnya

Potensi Ekspor Bisnis Kerajinan Furnitur
Ekspor-Impor

OCTOBER 02, 2023

Potensi Ekspor Bisnis Kerajinan Furnitur serta Neg...